11 November 2014
Ini mungkin bakal kedengeran aneh, tapi hari ini gue akan bercerita tentang Robin Williams. Ya, I know, ini sudah 2 bulan sejak kepergiannya, tapi rasanya baru
siap untuk membagi perasaan gue di sini. Sebagai fans beratnya, teman-teman gue banyak yang heran kenapa gue nggak tampak terlalu sedih dengan kepergiannya, nggak update status tentangnya 3 kali sehari dengan isi yang mengharu biru, nggak membicarakan sebab dari kepergiannya... Jawabannya sederhana; karena gue nggak mengenalnya secara personal. Gue bukan teman, kerabat apalagi keluarga. Gue
hanya fans. Dan gue rasa meratapi kepergiannya di media sosial bukan hal bijak. Robin Williams memiliki keluarga, 3 orang anak yang sangat ia cintai yang tentu saja berduka. Bayangkan jika kita berada di posisi mereka, bagaimana rasanya membaca banyak tulisan yang isinya "menyayangkan", "menyesalkan" atau "menertawakan" kepergian ayah kita?
Jadi waktu itu, pagi-pagi sekali. Gue baru saja mandi dan bersiap untuk pergi bekerja. Sambil mengeringkan rambut gue mengecek handphone dan menemukan sebuah update twitter dari Sharon Osbourne. Mata gue langsung terasa panas dan nggak percaya dengan yang gue baca. Robin Williams meninggal dunia... Ya, gue menangis. Dan gue akui itu bukan tangisan kecil. Tanpa gue sadari nafas gue mulai tersenggal-senggal dan air mata gue menetes deras. Gue lalu mencoba menenangkan diri, menarik nafas dan meneguk segelas air. Butuh waktu yang nggak sebentar untuk menstabilkan emosi gue. Dengan mata sembab akhirnya gue berhasil berpakaian dan berpikir logis. Di kepala gue memang ada pertanyaan "Kenapa?" yang terus-terusan terlintas, tapi gue putuskan untuk menyimpannya sendiri dan mengucapkan rasa bela sungkawa sewajarnya pada Zelda, putri dari Robin Williams lewat akun twitter nya.
Gue masih ingat pertama kali melihatnya. Bersama Ibu dan Bapak gue menonton film Mrs. Doubtfire yang kelak menjadi film favorit gue sepanjang masa. Gue sangat menyukai tokoh Natalie yang diperankan oleh Mara Wilson. Di film ia diceritakan sebagai seorang anak yang sangat dekat dengan ayahnya (Robin Williams), yang secara kebetulan di kehidupan nyata ia seusia dengan gue, ---dan gue juga sangat dengan dengan Bapak. Mungkin itu jadi salah satu alasan mengapa gue merasa related dengan film Mrs. Doubtfire. Setelah menonton pertama kali gue langsung merengek untuk menonton ulang filmnya. Syukurlah VCD nya disewakan di rental dekat rumah, jadi gue bisa menonton sesering gue mau. Setiap kali menonton Mrs. Doubtfire, gue selalu tertawa, terharu, dan menemukan hal baru. Gue tumbuh bersama film itu, literally. Dari kecil sampai beranjak remaja. Dari hanya tertawa karena gerakan lucu yang dibuat Robin Williams sampai tertawa karena akhirnya gue mengerti lelucon yang tadinya hanya membuat Ibu dan Bapak tertawa. Lambat laun gue menemukan bahwa film itu sangat menginspirasi, semakin menambah alasan mengapa gue sangat terobsesi dengan Mrs. Doubtfire...
Lalu gue tumbuh menjadi seorang remaja. Setiap minggu gue tetap setia untuk datang ke rental dan menyewa VCD Mrs. Doubtfire. Kondisi keping VCD nya sudah nggak terlalu bagus, cover plastiknya lepas karena sering dibuka tutup. Entah mengapa membuat gue sedih. Mungkin terlalu banyak orang yang menyewa VCD ini dan nggak semuanya memperlakukannya dengan hati-hati. Dan sebuah ide nakal pun muncul, ketika gue kembali ke rental untuk mengembalikan VCD gue membuat wajah sangat menyesal. Dengan sedikit terisak gue berkata pada pegawai rental bahwa gue nggak sengaja menghilangkan VCD nya. Tentu saja ia nggak langsung percaya, gue telah menyewa VCD yang sama selama bertahun-tahun dan selalu kembali dengan selamat. Tapi gue tetap bersikeras, ---lalu nggak bisa menahan senyum ketika pegawai rental berkata gue harus membayar denda sebesar Rp. 40.000. Gue menang.
![]() |
Dress gue mirip seperti Mrs. Doubtfire di scene kolam renang :) |
Gue mempunyai VCD Mrs. Doubtfire sendiri. Well, ini milik rental tapi kan gue sudah membayar denda. Gue bisa menontonnya kapan saja gue rindu. Adegan Daniel Hillard (Robin Williams) yang menari dengan diiringi lagu Dude (Looks Likes a Lady) menjadi favorit gue. Bagaimana nggak, itu adalah lagu dari band kesukaan gue Aerosmith. Gue juga hapal dengan dialog-dialognya, termasuk 'nyanyian spontan' Robin Williams di adegan Raptor Rap.
Gue sangat bahagia mendapatkan apa yang gue mau. Tapi hati kecil gue merasa bersalah, meski gue membayar denda tetap saja gue berbohong. Pihak rental nggak tahu bahwa sebenarnya VCD nya nggak hilang... Akhirnya, dengan perasaan menyesal yang semakin besar gue mengembalikan VCD nya kembali. Gue bersedih karena harus berpisah dengan Mrs. Doutfire, tapi akan lebih sedih lagi jika gue menjadi seorang pencuri.
Mungkin teman-teman heran, kenapa gue nggak punya VCD Mrs. Doubtfire sendiri padahal sangat menyukai film itu. Bukan tanpa usaha, selain meminjam ke rental gue juga mencari ke berbagai toko CD, tapi selalu kehabisan. Bahkan gue sampai meninggalkan nomor telepon di Disc Tarra untuk berjaga jika ada kiriman VCD Mrs. Doubtfire lagi. Sambil menunggu gue pun mengoleksi film-film Robin Williams yang lain. Dari hasil menabung gue akhirnya memiliki puluhan judul VCD dan DVD Robin Williams. Beberapa ada yang sulit didapat karena harus memesan terlebih dahulu, tapi yang paling sulit dicari tetap Mrs. Doubtfire.
Selama pencarian VCD itu kekaguman gue terhadap Robin Williams semakin bertumbuh. Jika awalnya gue hanya menikmati peran-perannya yang kocak seperti di film Hook, Jack, Patch Adams atau Flubber, lama kelamaan gue juga menikmati peran-perannya yang serius. Perannya di film The Fisher King sebagai orang dengan gangguan jiwa membuat gue patah hati dan merasa meyesal untuknya. Atau perannya di One Hour Photo sebagai maniak yang kesepian membuat gue gemas sekaligus bersedih. Death Poet of Society, House of D, Man of the Year, Death the Smoochy, Night Listener dan banyak banyak banyak.... lagi. Gue nggak pernah kecewa dengan actingnya. Ia bisa jadi siapa saja.
![]()
Lalu, beberapa tahun kemudian ketika gue kelas 2 SMA ada kejutan menyenangkan. Seorang teman Ibu yang tahu bahwa gue menyukai film-film Robin Williams menelepon untuk bertanya apakah gue sudah mempunyai VCD Mrs. Doubtfire. Dengan suka cita gue menjawab "belum"dan memintanya untuk membelikannya dulu lalu berjanji uangnya akan gue ganti. Gue bahagia bukan main, akhirnya setelah menunggu sekian tahun Mrs. Doubtife masuk ke dalam koleksi film gue :) Judul-judul lain pun sering gue tonton ulang, tapi tetap Mrs. Doubtfire jadi yang paling sering. Waktu kecil gue sempat memiliki kalender yang ditandai setiap kali gue menonton film itu (I know, kinda silly, lol). Tapi entah kenapa dihitungan ke 50 gue berhenti dan gue nggak ingat sudah berapa ratus kali totalnya gue menonton film itu :)
Gue berduka, sangat. Waktu perjalanan bekerja pun air mata gue beberapa kali keluar. Gue mengungkapkan perasaan gue pada Ibu, Bapak dan Ray, tapi nggak sama yang lain. Jika gue menangis meraung-raung, merengek dan marah karena Robin Williams pergi, itu artinya gue egois. Gue nggak boleh merasa jadi orang yang paling berduka sedunia, sementara ada keluarga dan kerabatnya yang pasti merasa lebih kehilangan. Gue putuskan untuk mengekspresikan perasaan gue dengan lebih positif, sebisanya. Koleksi film-film Robin Williams akan gue gunakan untuk membuat "A Week for Robin Williams", 1 minggu yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Gue beruntung lahir di masa kejayaannya, ketika ia bermain di banyak film. Tapi untuk anak-anak yang lebih muda dari gue, mereka mungkin hanya menonton filmnya beberapa tahun kemudian setelah dirilis. Atau malah baru mengenal filmnya justru ketika Robin Williams sudah pergi.
Jadi gue bawa beberapa VCD dan DVD Robin Williams ke preschool tempat gue bekerja. Gue memilih film-film harmless yang cocok dengan usia murid-murid gue yang masih di bawah 3 tahun. Mereka nggak mengenal film-filmnya, tentu saja, tapi meraka antusias ketika memilih judul film untuk movie time. Akhirnya film "Happy Feet"lah yang menjadi pilihan. Sengaja gue meredupkan lampu kelas dan membesarkan volume suara TV. Lalu gue melihat pemandangan yang luar biasa, anak-anak duduk dengan manis dan terpukau dengan suara Robin Williams. Ali, salah satu murid gue bahkan menggoyang-goyangkan kepalanya ketika mendengar Robin Williams bernyanyi. Dalam sejarah gue mengajar, ini adalah movie time yang paling sukses! Biasanya anak-anak selalu berlarian kesana-kemari setelah beberapa menit film dimulai, tapi Robin Williams ternyata berhasil membuat mereka terhipnotis. Gue ikut senang, meski dalam hati ada sedikit haru karena anak-anak nggak tahu bahwa pemeran Ramon (dan juga Lovelace) sudah meninggal... :)
![]() |
Preschoolers juga nonton film Robin Williams :) |
Ada beberapa teman yang mencoba menyinggung tentang penyebab kepergian Robin Williams pada gue. Karena reaksi gue terhadap kepergiannya mereka mengira gue nggak tahu apa-apa. Padahal mereka salah... Gue sudah tahu bahkan di hari ia pergi, tapi gue memang menolak membicarakannya. Gue sengaja nggak menonton TV, membaca berita atau melihat di internet tentang itu. Gue nggak mau melihat/membaca media yang memberikannya label-label atau judgement yang menyakitkan. Di hari pertama saja timeline gue sudah penuh dengan update tentang Robin Williams dari berbagai media, bahkan dari fans yang menyudutkanya. For God sake, ia sudah meninggal. Membaca beritanya bahkan membuat gue lebih sedih daripada menghadapi kepergiannya. Gue mengerti ia seorang public figure, tapi kenapa harus melupakan fakta jika ia juga seorang suami, seorang ayah, bagian dari sebuah keluarga yang sangat mencintainya. Gue nggak mau Bapak (yes, my dad), dibicarakan seolah beliau hanya objek, bukan makhluk hidup. Dan gue percaya keluarga Robin Williams juga nggak menginginkan ia dibicarakan seperti itu. Kita mungkin sering mendengar cerita tentang hidupnya dari media, tapi nggak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Di hari terakhir "A Week for Robin Williams" gue menonton film favorit gue sepanjang masa, Mrs. Doubtfire. Gue masih tertawa ketika mendengar lelucon-leluconnya, masih merasa 'malu' ketika mendengar lelucon dewasanya :) Tapi arti filmnya ini jadi lebih dalam dari sebelumnya. Monolog Robin Williams tentang keluarga membuat gue tersenyum haru;
''Beberapa keluarga hanya mempunyai Ibu, sementara keluarga lainnya hanya mempunyai Ayah. Mereka mungkin tak bertemu untuk beberapa hari, minggu, tahun... bahkan selamanya. Tapi selama masih ada cinta, kita akan selalu terikat menjadi sebuah keluarga."
Kepergian Robin Williams bukan berarti ia sudah nggak memiliki cinta, ini hanya sudah waktunya. Dan tulisan ini hanya ungkapan perasaan gue. Sebuah hadiah kecil yang gue dedikasikan untuk Robin Williams. Untuk seorang idola, dari seorang penggemar...
nb: Bapak bercerita waktu kecil film pertama yang gue tonton di bioskop adalah Alladin. Dan beberapa bulan yang lalu ketika gue menulis list film kartun 2 dimensi terbaik di majalah GoGirl gue memasukan Alladin ke dalam list.
Ya, Alladin, salah satu film Robin Williams... Sungguh kebetulan yang manis :)
a fans,
Indi
_______________________________________________________
Facebook: here | Twitter: here | Instagram: here | Contact person: 081322339469